ACUNGKAN JARI TELUNJUK PADA DIRI SENDIRI.
Selama ini kita lebih sibuk pada urusan kesalahan dan kekurangan orang lain tetapi melupakan kesalahan dan kekurangan pada diri sendiri. Bahkan kita pun terkadang tidak mau untuk menerima kritikan dari orang lain.
Kita selalu beranggapan kitalah yang benar dan orang lain yang salah. Itulah sifat egosentris yang menilai sesuatu dari dirinya sendiri dan itulah egois yang menilai kitalah yang patut jadi teladan dan orang lain menjadi pengagumnya.
Hendaklah kita berfikir sejenak bahwa orang lain juga punya akal dan ide yang harus dikembangkan dan mungkin lebih brilian. Bila memang kita menjadi orang terpintar di kalangan mereka maka tidak selayaknya kita menganggap mereka bodoh,karena kebodohan juga kalau diterima dengan tawadhu justru akan menjadikan orang itu menjadi rendah hati dan tahu diri.
Hendaklah kita menyadari bahwa kecerdasan dan kekayaan juga merupakan ujian yang harus disyukuri dan dimanfaatkan dengan sebenar benarnya. Hendaklah kitapun terbiasa untuk bermuhasabah atau instropeksi diri terhadap kesalahan dan kekurangan yang ada pada diri sendiri. Kitalah yang tahu apa yang telah kita perbuat dan apa makna perbuatan itu bagi kehidupan pribadi kita. Kita acungkan jari telunjuk kita pada diri sendiri untuk memerintahkan hal hal terbaik yang layak kita perbuat dan hal hal buruk yang harus kita campakkan.
Itulah kebijaksanaan yang harus kita terapkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Mengapa kalau kita berbuat salah mesti enggan untuk memperbaikinya dan berusaha untuk memaafkan diri sendiri ? Tentu hal ini akan menjadikan hidup ini menjadi indah dan bersahaja karena kita selalu berfikir positif dan pandai mengoreksi kesalahan yang ada pada diri sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar